top of page

Changing Leader Disruption

  • Ayu Rai
  • Apr 13, 2018
  • 4 min read

Apa sebenarnya yang dinamakan era disruptif? Secara umum, era disruptif diartikan sebagai masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi – inovasi yang tidak terlihat, tidak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama atau bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.Kita sedang di era disruptif tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kejadiannya ada di depan kita, dan betul – betul terasa dinamikanya.

Sebagai dosen muda yang pernah belajar kepada dosen – dosen senior saya, apa yang bisa saya lakukan adalah menghormati apa yang mereka ajarkan dan memulai perubahan dari dalam diri saya sendiri. Saya memiliki prinsip, jika saya protes, maka saya harus menciptakan solusi dengan resource yang saya miliki.

Deans for Impact, sebuah organisasi yang terdiri dari pendidik senior dan pengkader pendidik – pendidik baru, menerbitkan report “Practice with Purpose” yang berisikan prinsip – prinsip wajib untuk diterapkan pendidik dalam disruptive era. Beberapa hal dari prinsip itu sudah saya coba, dan beberapa lainnya masih dalam proses. Pada intinya, saat ini seorang pendidik harus betul – betul memahami perkembangan zaman, terus belajar, dan melatih otot – otot mengajar yang ada dalam diri mereka agar bisa lebih baik. Istilahnya, deliberate practice.

Fenomena semacam ini bukan tidak mungkin menimpa pada pelaku dunia pendidikan, dalam hal ini yaitu guru. Guru yang tidak siap dan sigap menghadapi perubahan atau tuntutan zaman serta tidak inovatif, ditengarai akan tergerus oleh gelombang disruption. Tuntutan zaman saat ini adalah tuntutan abad 21, dimana segala aspek kehidupan dipengaruhi oleh teknologi informasi dan teknologi digital.

Para peserta didik yang guru hadapi saat ini di sekolah adalah para digital immigrant yang sejak kelahirannya sudah bersentuhan dan terpapar langsung dengan digital devices (perangkat-perangkat digital). Mereka sudah sangat mahir dalam memanfaatkan perangkat-perangkat digital tersebut baik sekedar untuk bermain game ataupun untuk mengakses informasi-informasi yang berseliweran di dunia internet. Sementara para guru kebanyakan merupakan digital immigrant yang baru saja dikenalkan kepada dunia digital oleh perkembangan zaman.

Hal ini menyebabkan mereka memiliki ketertarikan yang lebih terhadap hal-hal berbau digital dan/atau teknologi informasi. Sehingga hal ini menyebabkan mereka berkurang ketertarikannya terhadap hal-hal konvensional atau usang. Bukan tidak mustahil mereka akan berkurang minatnya terhadap proses pembelajaran konvensional yang guru sampaikan di kelas.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi guru di abad 21 ini agar tidak tergerus oleh gelombang disruption yang telah diperingatkan oleh Rhenald Kasali. Ada beberapa hal yang bisa dan harus para guru lakukan agar tidak terkena oleh gelombang disruption.

Yang pertama adalah guru harus mau melengkapi dirinya dengan kemampuan menjalankan proses pembelajaran yang mampu menjadikan peserta didiknya menguasai coreskillsatau keterampilan abad 21. Keterampilan-keterampilan tersebut yaitu: (1) Critical thinking and problem solving (Berpikir kritis dan pemecahan masalah); (2) Collaboration and communication (Kolaborasi dan komunikasi); (3) Creativity and imagination (Kreativitas dan imajinasi); (4) Citizenship(Kewarganegaraan); (5) Digital literacy (melek digital); dan (6) Student leadership and personal development (kepemimpinan siswa dan pembangunan diri) (https://kompasiana.com/cecepgaos) Yang kedua adalah inovasi. Mau tidak mau, guru harus terus berinovasi dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. Inovasi bisa dilakukan dalam hal pendekatan pembelajaran, strategi, metode, model, penggunaan media pembelajaran, dan lain sebagainya.

Lantas apa saja prinsip yang harus dipegang pendidik di era disruptive?

  1. Push Beyond Comfort Zone (Keluar dari zona nyaman)

  2. Works Toward Well Defined, Specific Goals (Bekerja dengan target atau capaian yang jelas)

  3. Focus Intently on Impactful Activities (Fokus memberikan aktivitas yang bermakna dan berdampak)

  4. Receive and Respond High Quality Impact (Menerima dan Memberikan feedback berkualitas)

  5. Develop Mental Model of Expertise (Membentuk mental model seorang expert)

Bagaimana Bentuk Latihan Prinsip – Prinsip Tersebut?

Dalam konsep pengembangan diri, dikenal istilah deliberate practice. Istilah ini dipopulerkan pertama kali dalam buku Malcolm Gladwell yang berjudul Outliers. Salah satu hal yang membuat orang bisa mencuat dari kerumunan dan meraih capaian di atas rata – rata adalah karena mereka melakukan deliberate practice. Deliberate practice adalah latihan terstruktur yang dilakukan konsisten dan terus-menerus.

Melatih prinsip 1 saya mulai dengan menerapkan student centered learning dan remote learning dalam kelas atau aktivitas mengajar yang saya lakukan. Saya yang terbiasa nyaman dengan metode lecture 1 arah atau ceramah, saat ini dirasa sudah tidak efektif lagi karena informasi bisa dengan mudah dicari sendiri oleh mahasiswa. Hal yang bisa dilakukan adalah membuat aktivitas belajar yang “mengkonstruksi pengetahuan” secara mandiri dari pengetahuan yang sudah mereka dapatkan itu. Apakah pembelajaran seperti ini nyaman? Tentu tidak, karena saya harus ‘capek – capek’ menjadi fasilitator dan evaluasinya pun lebih kompleks. Selain itu, saya juga memaksa diri saya memanfaatkan teknologi agar pembelajaran menjadi lebih efektif (misalnya menggunakan scele UI).

Prinsip 2 saya mulai dengan memberikan materi atau tugas yang esensial, memiliki tujuan yang clear, dan tujuan itu bisa ditangkap dengan baik oleh mahasiswa untuk membuat hidup mereka lebih baik. Misalnya, tugas pembelajaran berbasis riset yang saya berikan ke mahasiswa adalah untuk memberi mereka pengalaman bagaimana menerapkan riset model dan simulasi untuk memecahkan masalah sebenarnya.

Prinsip 3 saya mulai dengan bertanya kepada mahasiswa dampak aktivitas belajar yang saya berikan kepada mereka. Di beberapa topik tertentu, saya menerapkan lecture, role play & simulation, problem based learning, remote learning, collaborative learning, atau research based learning. Beberapa metode cocok untuk materi tertentu, sementara yang lain tidak. Fokus saya adalah menggunakan metode yang memberikan impact terbesar untuk pemahaman mahasiswa.

Prinsip 4 dimulai dengan mewajibkan mahasiswa membuat refleksi diri dan memberikan masukan / saran kepada saya untuk mengembangkan teknik pendidikan yang lebih baik ke depannya. Selain itu, saya juga mulai membiasakan memberikan feedback atas tugas – tugas mahasiswa, agar mereka tahu di titik mana mereka harus memperbaiki kesalahan atau mempertahankan hal yang sudah bagus. Kebanyakan dosen hanya memberi tugas, tanpa memberikan feedback (karena tidak sempat).

Prinsip 5 dimulai dengan terus – menerus belajar hal – hal baru di bidang yang kita ajarkan agar kita sebagai dosen atau pengajar menjadi expert. Selain itu, saya juga menerapkan pola pikir bahwa saya harus menjadikan mahasiswa expert setelah keluar dari kelas yang saya ampu. Hal tersebut mengubah cara saya dalam belajar dan mengajar. Menggunakan expertise mental model ini secara langsung dan tak langsung akan membuat standar belajar dan mendidik naik.

Itulah 5 prinsip yang saya pelajari perlu ditanamkan seorang pendidik di era disruptive agar bisa terus bersaing dan semakin impactful.

Kepala sekolah mesti memiliki kemampuan untuk mengerakan guru-guru agar terus membaharui diri, termasuk melakukan monitoring terhadap semua program serta memotivasi guru-guru untuk terus membuat inovasi-inovasi sesuai kompetensinya masing-masing. Sebagai pemimpin, kepala sekolah yang harus di-update kompetensinya.

Menurut hukum katup (Law of The Lid) kemajuan sebuah organisasi ditentukan oleh kemampuan leader-nya. Bila level kemampuan leadershipnya hanya 6, maka organisasi itu mustahil berkembang melampaui itu.#gantipimpinan

Dengan upaya-upaya tersebut semoga kita tidak tergerus oleh gelombang disruption yang saat ini melanda kehidupan kita di abad 21 yang dapat menyebabkan kita ditinggalkan oleh zaman.

Jayalah Terus Guru-Guru Indonesia!

sumber copas;beberapa tulisan di internet

tulisan arryrahmawan.net


 
 
 

Follow

  • Facebook

Contact

+6281357784547

Address

Surabaya City, East Java, Indonesia

©2018 by THINKSMARTWOMEN. Proudly created with Wix.com

bottom of page