Lingkaran Kepalsuan Globalisasi
- Ayu Rai
- Mar 25, 2018
- 5 min read
Riset, perhitungan dan sejenisnya yang menyatakan kemampuan Indonesia dalam memimpin dunia kedepannya cukup masuk akal, terlebih dengan dukungan sumber daya alam yang mencukupi. Kekayaan sumber daya alam (SDA) memang merupakan sarana prasarana yang memadai. Jadi dapat dikatakan bahwa nantinya Indonesia tidak butuh dunia, namun dunia butuh Indonesia.

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat dunia yang tidak mengenal bataswilayah dan menghubungkan antara masyarakat di suatu negara dengan masyarakat di negara laindi seluruh dunia. Globalisasi berangkat dari suatu gagasan untuk menyatukan tatanan antar bangsa yang diharapkan menjadi sebuah kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Sebagai proses yang berkesinambungan, globalisasi mampu mengurangi kendala dimensi ruang dan waktu sehingga interaksi dan komunikasi antar bangsa bisa dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi, globalisasi merambah semua sektor kehidupan dan memberi pengaruh yang signifikan pada tatanan masyarakat dunia.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia juga mengalami dampak dari pesatnya pengaruh globalisasi. Sebagaimana yang terjadi di negara lain, globalisasi memberi pengaruh yang positif dan negatif terhadap tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh globalisasi terhadap budaya nasional meliputi berbagai sektor kehidupan seperti budaya dalam bidang politik, ekonomi, ideologi, sosial dan lain- lain secara cepat maupun lambat mempengaruhi prinsip dan identitas kebudayaan nasional Indonesia.

Pengaruh positif globalisasi terhadap budaya berpolitik adalah tumbuhnya kesadaran untuk menjalankan pemerintahan secara terbuka dan demokratis sebagaimana yang telah dijalankan oleh negara-negara demokratis di seluruh dunia.
Pada sektor ekonomi, dengan terbukanya pasar internasional, budaya bersaing secara positif sudah mulai mempengaruhi pola pikir masyarakat dunia usaha di Indonesia. Budaya tersebut memotivasi para pelaku usaha untuk menciptakan produk barang dan jasa yang kompetitif di tingkat dunia.
Pada bidang sosial, globalisasi menularkan budaya berpikir global, etos kerja dan disiplin yang tinggi serta semangat untuk maju yang pada akhirnya mencipatkan identitas bangsa yang lebih positif di tingkat dunia. Selain pengaruh positif, globalisasi juga memberi pengaruh negatif pada budaya nasional Indonesia.
Pada bidang politik, globalisasi yang didukung faham demokasi dan liberalisme lambat laun mengikis nilai-nilai budaya luhur dalam ideologi Pancasila. Budaya voting yang mengabaikan semangat musyawarah untuk mufakat adalah contoh nyata dari pengaruh negatif globalisasi dari faham demokrasi.
Pada bidang ekonomi, budaya cinta produk dalam negeri yang digalakkan sejak Orde Baru sudah terkikis dengan maraknya produk luar negeri (misalnya CocaCola, Pizza Hut, dan Apple). Pada bidang sosial, sebagian besar mayarakat Indonesia, terutama generasi muda, mulai lupa dengan identitas diri bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan begitu mudahnya mereka meniru budaya dan gaya hidup negara lain, misalnya K-Pop, Rap, Hip-Hop, Punk, Harajuku, Capoeira, dan lain-lain.
Tetapi semua paparan pengaruh positif globalisasi jika tidak dipahami oleh seluruh pihak dalam berbangsa dan bernegara disegala sektor, maka kesiapan akan keterbukaan "arus komunikasi" hanya akan menjadi ajang aspirasi rakyat dilabel dengan “provokator”. lalu...untuk apa kita berdemokrasi dan untuk apa kita memprovokasi globalisasi jika hanya sebuah GOMBALISASI.
Jadi apalagi yg ingin kalian tutup2i saat ini dengan mengunakan dalih dan polemik “provokasi” untuk melegalkan hukum secara keliru,yang memutarbalikan kebenaran sejarah dan nilai nilai luhur adab budaya negeri serta manipulasi yang penuh ambisi mulai jadi tradisi di era gombalisasi?!!
.

"Ingat,adegan kepalsuan, intrik rekayasa dan cipta kondisi ternyata bisa juga kembali memukul kearah orang2 yg menciptakannya sendiri”
Jadi potret sosial.yg berdimensi manipulasi dalam segala hal politik mana bisa dihindarkan, karena rakyat itu masing2 punya rekaman dan pilihan aspirasinya masing2 atas contoh tauladan dari public figur penguasa penguasa yang penuh GOMBALISASI.
.*Think Smart*
Ya sudahlah...hidup ini kalau dipikir-pikirkan....terasa insecure (tidak terasa aman). Apalagi kalau pikiran sudah confused (batin berkabut) : penalaran logis ditambah rasa panik. Satu jurus pikiran saja sudah menghasilkan ratusan kemungkinan, ratusan skenario yang mengancam kelanggengan diri dan kesenangannya. Membagi, memilah, mengukur, membandingkan, memproyeksikan. Akibatnya diri semakin resah dan sibuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan itu. Tidak pernah henti walau terasa sangat lelah... Ia membuat jawaban-jawabannya sendiri, pembenaran-pembenarannya, evasion-evasion-nya, dalih-dalihnya....yang mana menjadikan dirinya merasa benar..... yang kemudian dirasa perlu untuk disebarkan ke lingkungan sekitarnya...guna mempengaruhi sekitarnya agar kondusif terhadap keresahannya itu.
Tapi ia lupa, lingkungan yang resah pada akhirnya memantulkan kembali keresahan yang semakin besar. Karena berada di antara orang-orang yang tak merasa aman, maka kita semakin tidak nyaman.....SEKALIPUN mereka menipu diri dengan pembenaran-pembenaran yang menghibur. Confusion mereka ditutupi oleh angan-angan tentang sesuatu indah yg permanen dan menjanjikan...yang sesungguhnya merupakan produk dari confusion itu....memaksa mengeraskan diri pada yang hakikatnya UNKNOWN. Jadi, dengan kata lain... confusion diatasi dengan The Unknown Confusion......yg menyebabkan confusion menyebar dan meningkatkan intensitas insecurity. Meskipun demikian, batin manusia sangat pandai untuk berpura-pura merasa nyaman. Memelihara Ignoransi (kegelapan batin)agar supaya terhindar dari kejelasan realitas faktuil yang tajam itu. Bisakah kita melihat semua itu TANPA MENGHINDAR? Tanpa berlindung pada konsep-konsep indah? Telanjang menghampiri apa yang ada. Itulah batin seorang SUFI. Segala macam yang muncul di dalam medan batinnya adalah sebuah peluang, tantangan untuk mencapai pencerahan : dieksplorasi, digumuli.....dipahami sebagai aneka rupa gambaran sang Hidup itu sendiri. Ia mampu melihat complicated-structure dari dialog (chatter) pikiran itu : self-confirming chatter. Melalui kesederhanaan dan tirakatnya, ia mampu menembusi super-structure konseptualitas yg muncul dari samudera emosi itu. Baginya, pikiran maupun emosi tidak dipandangnya sebagai hambatan. Tidak ada satupun yang dianggap sebagai halangan, keburukan atau evil. Semuanya sekedar dilihat sebagai bagian dari pemandangan-alam sepanjang perjalanannya....yg mengiring penemuan-penemuan yg terus menerus...discovery terhadap sesuatu yang selalu baru...TANPA berpegangan pada dogma apapun... completely OPEN SPACE... The starting point is the ending.
Palsu sebuah kata yang multiarti. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘palsu’ berarti tidak tulen; tidak sah; lancung (tentang ijazah, surat keterangan, uang, dan sebagainya); tiruan (tentang gigi, kunci, dan sebagainya); gadungan (tentang polisi, tentara, wartawan, dan sebagainya); curang; tidak jujur (tentang permainan dan sebagainya); sumbang (tentang suara dan sebagainya). Kata ini juga sering bersanding dengan kata lain yang sudah tidak asing di telinga masyarakat. Seperti uang palsu, ijazah palsu, surat palsu dan sebagainya. Namun tidak banyak dari masyarakat kita tidak menyadari bahwa mereka hidup dalam lingkaran kepalsuan.
Secara tidak langsung mereka menjadi objek dan subjek dari kepalsuan tersebut. Contoh ringan dari kehidupan sehari-hari kita, khususnya kita sebagai bangsa yang terkenal ramah tamah senyum palsu pada atasan, tetangga, bahkan saudara yang sebenarnya memendam kemarahan yang lama. Senyum tersebut seakan menjadi tameng kebohongan yang bersinergi. Hal lain yang sudah menjadi rahasia umum istilah janji palsu sudah tidaklah menjadi suatu hal yang tabu. Padahal janji itu seperti halnya hutang yang harus dipenuhi dan ditepati. Kalau dilihat di kamus istilah banyak lagi istilah atau frasa yang menggunakan kata ‘palsu’. Saya menjadi teringat dengan sebuah nasehat bijak orangtua yang pada saat pertama kali mendegarnya sangat mencengangkan hati saya sekaligus menjadi semangat untuk selalu berbuat jujur. Jadikan perbuatan jujur,menolong, berpikir positif, berprasangka baik menjadi sebuah kebutuhan hidupmu hanya mengharap balasan dari TUHAN.

*Think Smart*
Globalisasi atau Gombalisasi....sebagai warga Indonesia yang mencintai Indonesia wajib hukumnya untuk mendukung Indonesia agar bisa sejahtera. Pemerintah bersama masyarakat perlu menyikapi kehadiran globalisasi disini secara cerdas, intensif dan berkelanjutan (berkala). Karena dampak/pengaruh negatif dari globalisasi ini lebih cepat diserap,ditiru dan ditularkan, jika dibiarkan secara terus menerus maka sama saja akan memutarbalikkan keadaan bahkan membuat keadaan (kehidupan masyarakat) Indonesia semakin terpuruk. Kesenjangan dan ketimpangan akan terjadi dan akan terus terjadi, baik antar wilayah, maupun kedudukan sosial di Indonesia.
Lalu INDONESIA masihkah dibutuhkan dunia atau Indonesia tidak ada lagi ?
audzubilahi min dzaliq...
Salam Sehat
Salam Cerdas
Sumber :
https://safitrianggrainidewi.wordpress.com/2014/08/31/globalisasi-hubungannya-dengan-masalah-idiologi-politik-ekonomi-dan-sosial-budaya-pada-negara-berkembang/