top of page

Kemiskinan adalah mental !!!!

  • Ayu Rai
  • Mar 2, 2018
  • 5 min read

Mental ini sebenarnya penyakit masyarakat yang berasal dari pendidikan, cara mendidik hingga pergaulan. Apakah bisa diubah? Bisa. Namun butuh proses ajar yang tidak sebentar, dan butuh lingkungan yang tepat untuk mengubahnya.

Ada beberapa ciri-ciri orang bermental miskin, yang banyak serta bisa dengan mudah ditemukan. Baik itu dilingkungan keluarga hingga lingkungan pergaulan serta lingkungan masyarakat sekitar. Penyakit mental miskin ini bukan hanya dimiliki oleh orang Indonesia, diberbagai negara lain mental seperti ini juga menjadi bagian kehidupan mereka.

Ketakutan pikiran, tidak mau membantu, senang dengan kesusahan orang lain (terutama) dalam hal harta benda merupakan ciri utama mental ini. Pemilik mental ini bukan berarti orangnya miskin secara harta, malah banyak sekali orang-orang bermental miskin ini justru memiliki harta benda yang berlimpah.

1. Pelit dan Pikiran Takut

Ada ungkapan “kalau tidak pelit tidak bisa kaya”. Ungkapan yang sering dijadikan alibi untuk membuat perilakunya jadi tampak wajar. Ini sebenarnya masalah pribadi orang tersebut, namun sifat pelit yang berlebihan akan mengganggu perputaran dunia. Baik dunia pertemanan maupun tetangga.

Pelit tidak selalu diartikan tidak mau menyumbang harta, namun juga bisa diartikan tidak mau menyuguhkan air minum saat ada teman, tidak bersedia mengeluarkan tenaga untuk kerja bakti dan sejenisnya. Ini biasanya dikuasai pikiran takut kehilangan atau kehabisan sesuatu.

Kalau Anda merokok kemudian selalu meminta rokok temannya dan tidak mau membagi rokoknya, tentu saja ini akan jadi menyebalkan lama kelamaan. Bukan begitu?

2. Tidak Menghargai Karya Teman Sendiri atau Orang Lain

Pernah saya tuliskan tentang orang mental miskin yang selalu meminta gratisan produk temannya. Orang-orang dengan ciri mental ini, tidak pernah paham atau bahkan tidak mau tahu untuk menghormati jerih payah teman dan orang lain dalam menghasilkan karya.

Stop Minta Gratisan Produk Temanmu, Stop Mental Miskin

Bagi mereka, meminta-minta sudah seperti budaya yang wajar. Mereka yang seperti ini bahkan tidak akan pernah memahami bahwa berkarya itu membutuhkan banyak tenaga, waktu bahkan uang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan pertemanan untuk mencari gratisan.

Bagaimana perasaanmu kalau sudah 3 tahun berkarya kemudian datang seorang teman dengan enteng bilang “minta?”.

3. Merendahkan Orang Lain

Saat kamu datang kepada mereka menawarkan produkmu, biasanya mereka akan menyepelekanmu, menganggapmu tidak berkompeten dengan produk itu, hingga dengan mudah mengatakan “ah aku juga bisa bikin seperti itu”. Seakan-akan saat datang dengan produk, kita sedang akan merampok mereka. Begitulah mental miskin.

Orang-orang ini tidak akan rela melihatmu berhasil, mereka akan terus menerus membuatmu gagal melalui berbagai cara dan berbagai alasan. Orang seperti mereka ini akan langsung sakit hati saat melihat kita berhasil bahkan sukses, mereka tidak akan bersedia melihat bagaimana susah payahnya kita berusaha.

4. Susah Menerima Kenyataan dan Mudah Curiga

Terus menerus menganggap bahwa dirinya pasti lebih baik dari orang lain, terus menerus menganggap bahwa orang lain hanya beruntung bisa seperti ini atau itu, dan sejenisnya.

Tidak ada keinginan untuk mengakui kenyataan serta kemampuan diri dan menerima atas apa yang terjadi. Ciri yang seperti ini biasanya bisa dilihat dari responnya saat mendengar keberhasilan orang lain.

5. Suka Memfitnah

Sering ketemu atau melihat orang suka memfitnah? Nah sebenarnya dia sedang ingin mengatakan kepada banyak orang bahwa dirinya sedang iri dengan keberhasilan orang lain yang difitnahnya.

Bahkan orang-orang atau kelompok yang suka menikmati fitnah juga bagian dari mental miskin. Dan ajaibnya, di Indonesia ini ada saja fitnah berjamaah dan mereka ini menikmatinya.

MENTAL KAYA VS MENTAL MISKIN

Yang membedakan orang kaya dan orang miskin adalah :

1. Pola pikir dan mental mereka berbeda. 2. Cara mereka mencari uang berbeda. 3. Cara mereka mengelola dan menggunakan uang berbeda.

Tidak punya uang hanyalah keadaan sementara, tetapi kemiskinan adalah mental.

Alasan utama mengapa orang miskin tetap miskin dan orang kaya semakin kaya adalah cara mereka berpikir (MENTAL) dan cara mereka mencari uang (KEBIASAAN).

Orang miskin karena tidak bisa mengatur uang.

Bagi orang miskin uang banyak juga tidak akan menyelesaikan masalah jangka panjang mereka selama mental kemiskinan tersebut masih ada.

Mayoritas orang miskin hanya berpikir mencari uang, uang, dan uang. Tetapi setelah mendapatkannya, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Jika orang miskin diberikan uang 1 milyar cuma-cuma, kemungkinan besar mereka akan menghabiskannya begitu saja.

Pada tahun 2005, ada sebuah penelitian dan dibuat film dokumenter yang menceritakan tentang bagaimana jika seorang gelandangan diberikan uang $100.000 (sekitar 1,4 milyar rupiah) dan dibiarkan melakukan apapun yang dia inginkan. Dan ternyata 6 bulan setelah itu, dia kehabisan semua uangnya dan kembali ketempat yang sama seperti sebelumnya.

Aset paling berharga yang dimiliki oleh orang miskin adalah waktu dan tenaga. Sayangnya aset ini sering dihabiskan sia-sia digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat dan bernilai tambah tinggi.

Orang miskin lebih suka mengambil keputusan bodoh yang akan semakin menyakiti keadaan finansial masa depannya, orang miskin lebih sering lebih memikirkan dan menghabiskan uangnya untuk kesenangan sekarang dan jangka pendek. Jangankan orang miskin, orang kayapun bisa jatuh miskin karena keputusan yang bodoh.

Uang itu bagaikan sebuah magnifyer (kaca pembesar) kata Oprah Winfrey. Orang bodoh dengan uang yang banyak, kebodohannya akan bertambah. Orang yang malas akan menggunakan uang yang banyak untuk bisa mempertahankan kemalasannya. Orang yang pada dasarnya suka pamer akan pamer lebih gila lagi. Orang yang pelit, akan mungkin bertambah pelit karena takut uang yang banyak tersebut habis. Orang dermawan akan menjadi lebih dermawan lagi.

Cara Anda menghabiskan uang bisa jauh lebih penting dari cara Anda menghasilkan uang.

Orang yang memiliki pola pikir kaya dan bermental kaya menggunakan waktu, uang dan tenaganya untuk membuat dirinya terus bernilai tambah sehingga kemampuannya untuk menghasilkan uang terus bertambah.

Otak kita adalah aset utama kita, yaitu otak yang berisi ilmu pengetahuan.

Jika otak kita ilmunya tidak bertambah maka aset keuangan kita tidak akan bertambah.

Orang kaya fokus menggunakan waktu, uang dan tenaganya pada meningkatkan kemampuan dirinya untuk menghasilkan lebih banyak lagi uang. Mereka berinvestasi dengan membeli dan membaca buku, menonton video2 pembelajaran yang menambah pengetahuan, ikut seminar, ikut pelatihan, membeli alat atau perlengkapan yang bisa meningkatkan produktivitas, berkumpul dengan orang-orang dan mengikuti kegiatan yang bernilai tambah.

Manusia yang paling banyak di muka bumi ini adalah manusia MENTAL MISKIN !!!.

Mereka kalau diberi gratis, dikira mau menipu.

Diberi tahu investasi kecil, mereka bilang hasilnya kecil. Diberi yang investasinya besar, mereka bilang “saya tidak punya uang”.

Diberi tahu untuk mencoba hal yang baru, mereka bilang, “saya tidak punya pengalaman”.

Diberi tahu bisnis tradisional, mereka bilang, “saya tidak punya bakat, susah”.

Kemudian diberitahu model bisnis yang lebih baru, dikira Multi Level Marketing, MLM.

Diberi tahu buka toko, mereka bilang “tidak bebas”.

Diberi tahu buka bisnis, katanya tidak punya pengalaman. Jadi poor people itu mereka punya kesamaan. Yaitu mereka suka bertanya ke Google, kemudian mendengarkan teman yang sama susahnya dengan mereka, kemudian cara berpikir mereka lebih banyak daripada profesor manapun, serta action atau tindakan mereka lebih sedikit daripada orang buta, padahal orang buta itu terus berjalan.

Jadi coba tanya pada mereka, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka tidak akan bisa menjawab. Mereka cuma tim tepuk tangan, mereka hanya akan bilang, “keren..bagus..! dia beruntung.” Mereka cuma bilang seperti itu.

Jadi kesimpulan saya daripada jantung anda berdetak lebih kencang, kenapa bukan mengambil lebih banyak tindakan ? Daripada cuma dipikirkan terus, mengapa tidak mencoba sesuatu?

Poor people dan gagal itu mempunyai satu kesamaan yaitu hidup mereka selalu menunggu dan menunggu.

Jadi : “Broke is temporary, Poor is state of mind”.

Ini kata-kata dari beliau.

“Broke is temporary, Poor is state of mind”.

Jadi bangkrut atau miskin itu cuma masalah sementara. Tetapi mental miskin itu adalah kondisi kejiwaan seseorang atau kondisi mindset seseorang.

Bagaimana dengan anda ? Semakin ANDA mengaku ngaku MISKIN maka itulah sesungguh DOA. Dan buktikan hasil DOA ANDA.

Penyakit orang banyak ini, bukan untuk dijauhi. Kita harus paham dan tidak meninggalkan mereka. Karena mereka ini sebenarnya sedang sakit, maka sudah selayaknya yang memiliki mental kaya untuk ikut andil menyembuhkannya. Sakit hati? Sudah pasti. Sabar ya.

Salam Sehat

Salam Cerdas

Perempuan Indonesia


 
 
 

Follow

  • Facebook

Contact

+6281357784547

Address

Surabaya City, East Java, Indonesia

©2018 by THINKSMARTWOMEN. Proudly created with Wix.com

bottom of page