top of page

SUDAHI EKSPLOITASI TUBUHMU

  • Ayu Rai
  • Feb 27, 2018
  • 4 min read

Dunia harus dibuat terbiasa menilai perempuan dari apa yang mereka bisa lakukan, bukan dari bagaimana tampaknya mereka. Hal tersebut hanya bisa dimulai dan dilangsungkan oleh perempuan sendiri. (Ayu Rai)

Banyak wanita yang tidak sadar bahwa sebenarnya mereka adalah korban dari eksploitasi berkedok emansipasi. Dengan dalih emansipasi banyak wanita yang ramai-ramai meninggalkan rumah. Wanita sekarang banyak yang malu kalau hanya tinggal di rumah saja mengerjakan tugas-tugas domestik wanita.

Seruan kaum feminis ternyata mendapat sambutan yang baik dari kaum wanita dengan ditandai banyaknya wanita yang berkiprah di hampir seluruh sektor pekerjaan tanpa harus memilih dan memilah apakah pekerjaan itu cocok dengan kondisi fisik dan psikologis wanita.

Dampaknya bisa kita rasakan dengan banyaknya kaum ibu yang menjadi stres terhadap beban kehidupan yang demikian berat. Pergeseran nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat luas menuntut wanita ikut bersaing dan turut mencukupi kehidupan keluarganya.

Diberitakan bahwa di Jepang banyak kaum wanita yang enggan mempunyai anak dengan alasan beban kehidupan bertambah berat mereka juga tidak mau terepotkan dengan adanya anak. Akibatnya, di Jepang tingkat pertumbuhan penduduk menjadi minus. Padahal, tingkat kesejahteraan yang meningkat membuat banyaknya para lansia yang menuntut negara untuk merawatnya karena banyak anggota keluarganya yang tidak sanggup untuk merawatnya karena sibuk.

Kita bisa bayangkan bila keadaan demografi di Jepang merata di seluruh dunia tak terkecuali negara-negara Muslim. Pemahaman emansipasi wanita yang keluar dari jalur bisa menjadi bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Allah Swt menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan tentunya sudah terencana dengan sempurna. Secara fisik dan psikologis Allah sudah menciptakan wanita dan pria sesuai dengan tugas yang akan mereka emban.

Laki-laki yang dipersiapkan sebagai pemimpin keluarga mempunyai fisik dan psikologis yang kuat; berbeda dengan wanita yang secara fisik lebih lemah dan psikologis yang lembut yang sangat cocok untuk tugas-tugas keibuan mengasuh dan mendidik putra putri generasi penerus umat manusia.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…. (Q.s. an-Nisaa` [4]: 34)

Kalau kedua jenis manusia ini saling iri dan mengklaim dirinya lebih utama dari lainnya, maka kehidupan umat manusia akan tidak bahagia karena mereka menyalahi kodrat yang sudah digariskan.

Kalau kita mau secara jernih melihat sejarah, lahirnya emansipasi wanita yang berasal dari Barat itu dikarenakan penindasan kaum wanita pada sistem masyarakat kapitalis saat itu sehingga membuat kaum wanita menuntut keadilan. Dan perjuangan kaum feminis ini ternyata berkembang menuntut kebebasan dalam segala hal bahkan untuk suatu hal yang di luar kodratnya sebagai wanita.

Fenomena ini dimanfaatkan benar oleh kaum kapitalis untuk mengeksploitasi wanita. Dengan dalih mendukung emansipasi mereka mendorong wanita untuk bekerja di pabrik-pabrik dengan upah yang minim. Diiming-imingi ketenaran menjadi bintang iklan, foto model yang mengeksploitasi keindahan tubuh mereka tanpa mereka sadari. Aurat yang seharusnya tertutup rapat dipertontonkan ke masyarakat luas. Dan demi nama seni banyak wanita yang tereksploitasi atau bahkan dengan bangga mempertontonkan keindahan tubuhnya untuk dijadikan objek kapitalis; bebas dilihat siapa pun.

Islam tidak melarang wanita untuk beraktivitas di ranah publik. Justru apabila aktivitas yang dilakukan untuk kemaslahatan umat Islam membuka luas kesempatan tersebut. Syaratnya, sesuai dengan syariat Islam dan harus sesuai dengan fitrahnya sebagai wanita serta tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang istri dari suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan para shahabiyyah semasa Rasulullah Saw. Kita kenal Aisyah r.a. istri Rasulullah sebagai perawi hadis dan tabib.

Mari kita simak kata-kata Sara Bokker setelah ia mendapat hidayah, “Sampai hari ini, saya tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh pada suami-suami mereka agar juga menjadi seorang Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia.”

“Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemungkaran, untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak berjilbab maupun bercadar serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya,” papar Bokker.

Jadi jika pemujaan tubuh menjadi salah satu akar eksploitasi, maka yang harus dilakukan untuk mulai menggerusnya adalah dengan menampilkan kecantikan perempuan dari segi yang lain. Memulai gerakan intelektual perempuan agar perempuan “dinilai dari isi kepalanya, bukan bentuk model rambutnya” adalah salah satunya.

Jika bermuculan perempuan-perempuan yang mencerahkan dunia dengan sumbangan intelektual mereka, maka tidak ada lagi alasan dan kesempatan untuk memandang perempuan dari fisiknya semata. Dunia harus dibuat terbiasa menilai perempuan dari apa yang mereka bisa lakukan, bukan dari bagaimana tampaknya mereka. Hal tersebut hanya bisa dimulai dan dilangsungkan oleh perempuan sendiri.

Tuntunan itu tidak bermaksud untuk mengekang perempuan, dan menudingnya (dengan segala pesonanya) sebagai biang dari kerusakan moral, melainkan untuk menekankan bahwa perempuan tidak boleh dinilai dari keindahan fisiknya tersebut. Di dalam ayatnya yang bersifat umum mencakup feminim dan maskulin, Al-Qur’an pun menegaskan bahwa ukuran manusia yang paling mulia adalah ketakwaannya, manusia yang diangkat derajatnya adalah mereka yang berilmu dan beramal saleh. Rasulullah yang agung tanpa ragu menyebut perempuan shalihah sebagai perhiasan dunia terindah, sembari menasehatkan setiap lelaki untuk menilai perempuan berdasarkan agamanya (lidiniha).

Ketentuan al-Qur’an di atas dapat dibaca sebagai pembebasan bagi perempuan dari pemujaan fisik yang menjadi akar belenggu mereka. Isyarat itulah yang berhasil dibaca oleh Yvonne Ridley, jurnalis wanita Sunday Expressyang ditawan Taliban pada awal invasi AS ke Afhanistan dan memeluk Islam setelah ia dibebaskan. Ia tahu persis bahwa pemujaan fisik telah menjadi alat penyiksa paling mengerikan bagi rekan-rekannya sesama perempuan di dunia Barat. Maka ketika ia melihat hijab dengan cara pandang tersebut, ia langsungkepincut.

Dengan bangga dan penuh kagum ia menyebut al-Qur’an sebagai “magna charta of women” piagam pembebasan bagi perempuan. Mereka yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti akan jalan pikiran Ridley menyederhanakannya sebagai gajala Stockholm Sindrome ; penyakit jiwa dimana tawanan berbalik memuja musuh yang menawannya. Padahal merekalah yang telah ditawan oleh kepicikan dan keengganan untuk mempelajari al-Qu’an dengan jujur dan tulus. Akibatnya, mereka tetap abadi dalam kebebasan semu bertema “my body is my right” sembari mebetah-betahkan diri dalam eksploitasi pemodal yang kejam.

Semoga kaum Muslimah tidak terjerat dan sadar adanya eksploitasi wanita dengan berkedok emansipasi yang siap menjerat kaum wanita yang lengah. Dengan mempertebal keimanan dan kesyukuran terhadap apa yang telah ditetapkan oleh agama, kita bisa terhindar dari eksploitasi wanita berkedok emansipasi ini.

*Think Smart*

Salam Sehat

Salam Cerdas

Hj.I.G.A.Aju Nitya Dharmani,SST,SE,MM

Dosen Ekonomi & Bidan, Seniman,Perias, Relawan Sosial

di Kota Surabaya


 
 
 

Follow

  • Facebook

Contact

+6281357784547

Address

Surabaya City, East Java, Indonesia

©2018 by THINKSMARTWOMEN. Proudly created with Wix.com

bottom of page