Positiflah berpikir, Santunlah berkata dan Indahkan bersikap
- IGA Aju Nitya Dharmani
- Jan 16, 2018
- 3 min read
Pasangan muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain. "Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri. "Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus." Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya. Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya: "Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya? " Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita." Dan begitulah kehidupan. Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya.. Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita. Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita. Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita. Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.
Tekhnik Memperbaiki Pola Pikir
Berpikirlah positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Pada dasarnya, prasangka kita adalah prasangka Tuhan terhadap diri kita.
Energi Follow Tought. Apapun yang kita pikirkan, itulah yang akan kita dapatkan. Maksudnya, jika kita berpikir negatif maka hal negatif yang akan menimpa diri kita. Namun jika kita berpikir positif, maka hal positif juga yang akan kita terima.
Tekhnik Memperbaiki Ucapan
Ubahlah kata-kata negatif menjadi kata -kata positif, karena ucapan adalah doa. Jika kita mengucapkan kata-kata negatif, maka apa yang kita ucapkan itu akan terjadi pada diri kita. Karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu menjaga tutur kata kita dengan lebih banyak mengucapkan ucapan-ucapan positif.
Tekhnik Memperbaiki Sikap
Orang lain adalah cermin dari diri kita. Bagaimana tindakan orang lain terhadap kita, tergantung bagaimana tindakan diri kita sendiri. Jika ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka bersikaplah baik pada orang lain.
Posisikan diri kita menjadi orang lain. Kita akan memahami apa yang orang lain rasakan, jika kita memposisikan diri kita sebagai orang tersebut. Kalau kita mendzalimi orang lain, bayangkan bagaimana jika kita yang didzalimi? Dengan berpikir seperti itu, kita tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang kurang menyenangkan bagi orang lain.
Jika ada yang berbuat jahat pada kita, maka sebarkanlah kebaikan dan cinta kasih padanya. Ketika kita mampu berbuat baik pada orang lain yang jahat pada kita, maka saat itulah hati kita mulai bersih dan penyembuhan emosional pun akan terjadi.
***

Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa "orang benar akan bertunas seperti pohon kurma". Pohon kurma lazim dijumpai di kawasan Timur Tengah. Dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yang dahsyat, hanya pohon kurma yang bisa bertahan hidup. Maka, tidak berlebihan kalau pohon kurma dianggap sebagai pohon tahan banting. Kekuatan pohon kurma ada pada akar-akarnya. Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu. Mengapa biji itu harus ditutup batu? Ternyata, batu itu akan memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan di atasnya. "Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah." Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa? Sekarang kita tahu mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan hidup datang. Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat. Tidak sekadar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yang selama ini menekan. Kita pun keluar menjadi pemenang kehidupan. Allah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat dan tegar menghadapi beratnya kehidupan.
Mulailah dengan niat untuk memperbaiki diri. Jika kita memperbaiki diri kita, sama artinya dengan memperbaiki dunia, karena kita merupakan bagian dari dunia. Jadi, jika kita ingin memperbaiki apapun di sekitar kita, mari kita mulai dengan memperbaiki diri kita sendiri. Dalam hal ini, kita dapat melakukannya dengan tiga langkah, yaitu:Memperbaiki pola pikirMemperbaiki ucapanMemperbaiki sikap Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.
Baarakallahu fiikum..