top of page

PEREMPUAN & TUNGGANGAN POLITIK

  • Ayu Rai
  • Jan 16, 2018
  • 4 min read

Kita mengetahui selama ini sebagian orang lebih suka berteriak di luar sistem bagaimana kebobrokan perpolitikan di negara kita. Tapi hanya ibarat berteriak di sebuah goa yang kedengaran hanya gema suaranya saja. Ibarat menyapu rumah yang kotor maka kita harus masuk ke dalam rumah untuk menyapunya, tidak bisa kita diluar saja dan menunggu rumah itu bersih dengan sendirinya, bukankah itu sesuatu yang mustahil?. Dalam arti kata kita mesti ikut berpolitik kalau kita merasa politik itu kotor dan perlu dibersihkan, inilah yang realistis.

Pernah dengar/membaca “menunggangi politik untuk agama”: memenangkan politik untuk melarang pornografi internet, untuk mensejahterakan masyarakat, untuk melarang maksiat. Menunggangi agama untuk politik itu biasanya mengumbar simbol-simbol Islam, ayat-ayat, dsb. untuk meraih politik.

Sedangkan mereka yang menunggangi politik untuk Islam biasanya gak gembar-gembor simbol, tapi misi-misi Islam terlaksana melalui politik.

Bedakan: "menunggangi agama untuk politik" dengan "menunggangi politik untuk agama", yang diserang biasanya yg kedua.

Yang biasanya dituduh "jualan agama" adalah yg "menunggangi politik untuk misi agama", karena aktivitas ini mengusik kebatilan.

Jadi yang jualan agama justru partai-partai sekuler, biasanya anti terhadap Islam tapi mendadak jualan simbol Islam untuk dapat suara muslim.

Tiba-tiba cagub/caleg partai sekuler tiba tiba menyumbang masjid, padahal biasanya anti masjid. Ini jualan agama.

Islamisasi politik dan politisasi Islam itu jauh berbeda niatnya apalagi hasilnya.

Yang politisasi Islam jelas akan menghadang setiap usaha islamisasi politik.

Pelaku "politisasi islam" akan berlawanan dengan pelaku "islamisasi politik".

Sangat jelas dan ekstrim bedanya antara yang menjual agama dengan pejuang Islam.

Yang membawa kebaikan agama jadi konstitusi itu bukan jualan agama namanya, tapi pejuang agama.

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya.

Agama Islam tidak hanya mengatur bagaimana hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tapi juga mengatur bagaimana berpolitik yang baik, menjadi umat yang baik, mentaati para pemimpin sepanjang dijalan yang benar dan para pemimpin melaksanakan kepemimpinan dengan baik pula. Islam itu ajaran yang sempurna dan sangat kompleks dalam mengatur seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan agama dipolitisasi untuk kepentingan politik, tidak, tapi agama menjadi dasar dan sandaran dalam berpolitik.

Jadi politik itu dapat dikatakan cara yang dikemas dengan cantik dan elegan untuk dapat menyampaikan agama itu kepada umat, mengajak umat itu taat kepada ajaran agamanya, apabila dia taat kepada agama maka perilakunya otomatis akan baik, memiliki akhlakul karimah dalam berinteraksi dengan sesama.

Tapi kalau menjual agama dan menunggangi politik untuk agama ya itu sengaja memilih salah.

Dalam konteks ini saya tidak ingin menggiring opini pembaca agar masuk ke dunia politik atau memilih salah satu partai yang dipercayai dalam pemilu, tapi mari kita lihat dan pelajari semua partai yang ada secara lebih lengkap dan utuh, barulah kemudian kita membuat suatu kesimpulan partai mana yang memenuhi kriteria kita sebagai pilihan.

Jadi perlu ditegaskan untuk kita semua, kenali partai, pelajari, setelah itu nilai, kemudian baru memutuskan mana yang paling baik. Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Jangan kita terlalu idealis dan terlalu berharap diluar kemampuan yang ada, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi kita harus kritis menyikapi setiap persoalan untuk menuju kepada perbaikan. Setiap ada persoalan hukum maka mari kita serahkan kepada yang berwenang, tidak ada yang kebal hukum meskipun penegak hukum itu sendiri. Dan yang terpenting adalah kita menyadari bahwa kita telah berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara ini, meskipun itu hanya sedikit.

Alangkah indahnya politik itu apabila aktor-aktor yang ada didalamnya diisi oleh pribadi-pribadi bersih, taat dan saleh. Sehingga semakin tumbuh kepercayaan rakyat dan dengan penuh kesadaran rakyat akan dengan senang hati ikut berpartisipasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya dalam mendukung kebijakan-kebijakan berbangsa dan bernegara.

Satu hal lain yang barangkali perlu kita renungkan juga, bahwa menjadi tokoh politik juga harus siap untuk "dinilai" oleh publik. Kesiapan inilah yang saya rasa membantu orang-orang politik untuk siap kalah atau menang. Dengan mental siap dinilai publik maka kalah pun jadi hal yang tidak berat. Salah satu contoh "penilaian publik" adalah "komedi politik". Contoh ini, di Indonesia baru dicoba dan mungkin belum sepenuhnya dapat diadopsi masyarakat, termasuk oleh sebagian politikusnya. Orang masih sensitif ketika misalnya, tokoh politiknya dikerjain sedemikian rupa oleh komedian, atau diberi anekdot-anekdot yang sarkastik. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim, salah ngomong, mencemooh seorang tokoh... lalu dibawa ke pengadilan. Saya kira pendewasaan politik itu harus secara terus menerus dilakukan baik oleh elit maupun di kalangan masyarakat. Bahwasanya apa yang diatributkan orang lain dengan segala keburukannya harus diterima oleh para elit politik sebagai kritik yang membangun. Dan mereka harus bisa menenteramkan pendukungnya, bukan malah menyulut mereka. Memang menjadi public figure, perlu dan harus mau menerima banyak masukan termasuk kritik. Dengan sikap dewasa, kritik selayaknya diterima tetapi cemooh dan ejekannya tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Kepala boleh panas, tapi hati harus senantiasa tetap dingin. Akhirnya, semoga tradisi gentlemen mengakui kelebihan/kemenangan lawan pada Pidato Politik setiap pemilu Amerika benar-benar menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Dan jika mungkin menjadi tradisi baru bagi perpolitikan Indonesia.

Saatnya kita para perempuan mencoba kampanye yang lebih serius; minoritas yang tak perlu lagi canggung mengajukan diri, kalau memang mau, mampu dan siap bersaing, kenapa tidak mencoba?; mengajak untuk selalu menyatukan bangsa; mengajak untuk menjadi bangsa yang bermartabat, jujur, berani mengakui kelemahan dan kelebihan seseorang; tahan terhadap ujian dari siapapun; dan tidak menjadi greedy (tamak) terhadap semua kemenangan yang diperoleh. Insya Allah, dengan mencoba hal itu Indonesia bisa juga menjadi teladan. Saya sangat yakin tentang hal ini [Yes, we can!].

----------------------------------------------------------------

Hmm...bagaimana? Sudah paham perbedaannya? Seringkali hanya karena sudut pandang kita yang terlalu sempit justru menjatuhkan kita dalam kesesatan yang begitu nyata. Naudzubillahimindzalik...

Yuk, kita sama-sama perbaiki kembali sudut pandang kita dalam berbagai hal. Termasuk salah satunya dalam bidang politik.

Warga negara yang baik memang seharusnya menggunakan hak pilihnya di Pemilukada dan Pemilu 2018 dan 2019 nanti, alias tidak golput. Tapi orang yang baik menggunakan hak pilihnya untuk memilih caleg dan partai yang baik, alias tidak membiarkan caleg dan partai yang buruk yang menang. Karena dengan kita golput, itu sama saja diam. Diam dalam rangka membiarkan caleg dan partai yang buruk menang. Ga mau kan? Makanya pilih caleg dan partai yang baik :)

Menangkan sebuah pertarungan dengan cara bersih,cerdas, beretika dan elegan.!!!

Salam

Hj.I.G.A.Aju Nitya Dharmani,SST,SE,MM

Dosen Ekonomi /Bidan/Seniman/Relawan Sosial

Kota Surabaya


 
 
 

Follow

  • Facebook

Contact

+6281357784547

Address

Surabaya City, East Java, Indonesia

©2018 by THINKSMARTWOMEN. Proudly created with Wix.com

bottom of page