Perempuan & Seni Ludruk
- Ayu Rai
- Jan 14, 2018
- 3 min read
Saya masih ingat benar awal saya menjerumuskan diri di ludruk. Sementara lingkungan dan keluarga mempertanyakan kenapa?.
Berawal dari pementasan bersama PARFI Jatim dan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara pada 2016 dan langsung mendapat peran utama dengan lakon "Tetesan Airmata Ibu". Kesimpulan dari pengamatan setelah beberapa kali main bergabung bahwa disana sesungguhnya cerita dibalik panggung ini adalah miniatur masalah sosial masyarakat. Hmmm lain waktu saya akan tuangkan tulisan khusus tentang dibalik panggung ludruk...sabar ya.
Oke menurut saya ,ada beberapa faktor yang sekiranya bisa menjawab mengapa kesenian ludruk ini ditinggalkan penontonnya?.
Faktor yang menonjol :

1. Sarana Prasarana. Gedung pementasan yang sudah tidak layak jual. Mulai dari tempat duduk penonton, tidak ber AC,toilet yang jauh dari citra bersih & nyaman. Soundsistem, asesoris panggung dan dibalik panggung. Semua sangat amat perlu dibantu untuk diperbaharui dengan nilai jual kekinian.
2. SDM Pengrawit,pesinden, ngremo, tandak bedayan, jula juli sampai pelakon ludruk yang jauh dari tampilan "good looking" yang layak jual secara menyeluruh.Mengapa begitu terkesan sulit mencari bibit muda dalam ludruk. Khususnya regenerasi lakon perempuan,permasalahan terkait ruang gerak perempuan dalam berkesenian yang seringkali dibatasi oleh stigma masyarakat. Hal ini seiring terbentuk karena seni ludruk sangat lambat mengikuti perubahan yang dikarenakan mereka adalah murni sebagai pekerja seni ludruk dengan latarbelakang pendidikan rendah dan sosial yang terpinggirkan. Alasan kondisi ini membuat perempuan yang bekerja sebagai seniman memiliki beban ganda. Selain memikirkan permasalahan di sektor kesenian, mulai dari akses dana ke pemerintah hingga tata kelola lembaga seni, perempuan pun mesti memikirkan posisinya sebagai perempuan. Beban yang tak dimiliki oleh laki-laki. “Kebanyakan perempuan yang sudah menikah tidak melanjutkan berkarya sebagai seniman karena energinya sudah habis melakukan tugas perempuan di keluarga dan masyarakat,kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam berorganisasi, ketidakmerataan akses, dan regenerasi seniman perempuan.


Akhirnya peran perempuan yang murni digantikan oleh perempuan jadi jadian. Sebagian masyarakat yang paham dengan ludruk sejak dulu, akan memaklumi keberadaan transgender (baca: waria) sebagai pemanis cerita dalam pementasan ludruk. Namun disatu sisi lainnya keberadaan transgender bagi keluarga modern menjadi pertimbangan ketat untuk mengijinkan anak - anaknya terjun menjadi Artis/Aktor dalam kesenian ludruk. Mereka beralasan yang bisa dimaklumi. Hal ini pula yang menjadi salah satu faktor penyebab mengapa ludruk dipinggirkan dalam era panggung kekinian.

Solusi demi solusi pernah dicoba untuk di lakukan seperti tahun 2016 menghadirkan kolaborasi menarik dengan kerjasama kepedulian PARFI Jatim yang melibatkan semua artis artis cantik di Jawa Timur bahkan juga melibatkan tokoh tokoh yang ada. Alhasil cara ini bisa membuat publik mau datang menonton.Namun masih ada keluhan pokok yang disampaikan tentang sarana prasaran yang tidak layak jual.

Solusi kedua masih bekerjasama dengan PARFI Jawa Timur, kali ini terobosan kekinian dengan pementasan FILUD (film ludruk) di gedung Cak Durasim, Gentengkali, tema menarik, kerjasama dengan BNN Kota Surabaya, dan Kepala BNN SBY Ibu Suparti, tokoh istimewa berkenan terlibat main ludruk.

Pementasan kali ini pun sangat memuaskan karena penonton dari beberapa tokoh dan kalangan lintas profesi serta sektoral swasta dengan antusias hadir menyaksikan ludruk. pendapat para penonton kali ini lebih memotivasi, bahwa sejujurnya mereka rindu menyaksikan ludruk dan generasi mudanya menyampaikan bahwa baru sekali pertama menonton ludruk yang sangat menghibur.

Namun semua kemeriahan pementasan seperti yang lalu bersama PARFI Jawa Timur bukanlah hal yang murah dan mudah bagi pekerja seni memikirkan mengulang kejayaan kolaborasi tersebut. Dibutuhkan kesungguhan solusi dalam melestarikan budaya ludruk oleh semua pihak. Terbukti mengawali 2018 pementasan hanya terbantu medsos masih belumlah menggugah masyarakat untuk menonton apalagi peduli menjadi generasi penerus seni ludruk.
Manajemen Pentas Ludruk yang terintegrasi dan bersinergi yang perlu di prioritaskan oleh seluruh pihak pemerintah dan swasta memfasilitasi LUDRUK menjadi tontonan yang kekinian tanpa harus meninggalkan pakemnya.
Ya seperti tontonan opera van java begitu mimpi sederhana saya pada ludruk Irama Budaya Seni Nusantara kedepan.
Bagi saya dan kawan kawan secara pribadi adalah sebuah tantangan untuk bisa membantu meng Ajeg kan kesenian ludruk di Surabaya khususnya, karena bagi kami LUDRUK adalah HARGA DIRI !!!
“Memang sulit menjadi seniman perempuan. Namun, jalan seni betapapun penuh semak dan belukarnya, seberapapun tak pastinya, ia akan tetap mengantarkan kita pada suatu tujuan".(Koalisi Seni)