Rasanya pacaran remaja NOW
- Ayu Rai
- Jan 9, 2018
- 11 min read
Wah, anak-anak zaman sekarang. Masih usia remaja sudah pamer pacaran. Kalau ini terjadi pada anak-anak Mama, pastilah Mama jadi waswas dan parno kan? Jangan-jangan anak-anak kita juga sudah mengenal istilah pacaran. Jangan-jangan gaya pacarannya aneh-aneh. Jangan-jangan ... Jangan-jangan ...
Duh, pusing!
Kalau Mama mulai menangkap gelagat cinta-cintaan pada si remaja yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA, Mama perlu sedikit berhati-hati dalam menyikapi perilaku mereka. Jangan terlalu emosional, sehingga Mama malah mendapatkan penolakan dari mereka, dan ini malah akan memperparah keadaan. Ah, menangani anak-anak remaja memang gampang-gampang susah, Ma. Apalagi mereka masih dalam proses pencarian jati diri ya. Jiwa 'pembangkang'-nya juga masih sangat kuat. Merasa udah gede, udah tahu segalanya. Ah, Mama pasti lebih tahu karakter si remaja ini kan ya. Kan, Mama mama mereka. Hihihi.
Perempuan Indonesia sebagai seorang ibu perlu tahu ini mengapa dan bagaimanakah secara teori psikologi tumbuh kembang anak anak remaja.
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku J.P. Chaplin, 1979) psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik setiap fase-fase perkembangan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk mengetahui karakteristik perkembangan fase remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan pada fase remaja, serta problematika pacaran pada masa remaja. Saya tertarik menuliskan ini dengan beberapa referensinya seiring untuk mengolah dan mengingatkan diri saya sendiri juaga sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak diusia remaja.
LANDASAN TEORI Pengertian psikologi perkembangan dan makna remaja a.Pengertian psikologi perkembangan Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku. ( J.P. Chaplin, 1979 ). Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. ( Ross Vasta. dkk, 1992 ).
b.Makna remaja Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).
Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa. Biasanya remaja belum dianggap sebagai anggota masyarakat yang perlu didengar dan dipertimbangkan pendapatnya serta dianggap bertanggung jawab atas dirinya. Terlebih dahulu mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kapasitas tertentu, serta mempunyai kemantapan emosi, sosial dan kepribadian. Dalam pandangan Islam seorang manusia bila telah akhil baligh, maka telah bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. Jika ia berbuat baik akan mendapat pahala dan apabila melakukan perbuatan tidak baik akan berdosa. Masa remaja merupakan masa dimana timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fakir menjadi matang. Namun masa remaja penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang.
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi
(a) remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22 tahun.
Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustin Pikunas, 1976).
Ciri-Ciri Masa Remaja 1.Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke peralihan masa dewasa. 2.Masa remaja sebagai periode perubahan. 3.Masa remaja sebagai usia bermasalah. 4.Masa remaja sebagai masa mencari identitas. 5.Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri. 6.Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. 7.Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatiannya terpusat pada dirinya.
Alasan-Alasan Yang Umum Untuk Berpacaran Selama Masa Remaja 1.Hiburan Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar pasanganya mempunyai berbagai keterampilan sosial yang dianggap penting oleh kelompok sebaya, yaitu sikap baik hati dan menyenangkan 2.Sosialisasi Kalau anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan kencan, maka laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin menjadi anggota kelompok dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok 3.Status Berkencan bagi laki-laki dan perempuan, terutama dalam bentuk berpasangan tetap, memberikan status dalam kelompok sebaya, berkencan dalam kondisi demikian merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam kelompok sebaya. 4.Masa Pacaran Dalam pola pacaran, berkencan berperan penting karena remaja jatuh cinta dan berharap serta merencanakan perkawinan, ia sendiri harus memikirkan Sungguh-sungguh masalah keserasian pasangan kencan sebagai teman hidup. 5.Pemilihan Teman Hidup Banyak remaja yang bermaksud cepat menikahi memandang kencan sebagai cara percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.
Kebutuhan Remaja 1.Kebutuhan akan pengendalian diri 2.Kebutuhan akan kebebasan 3.Kebutuhan akan rasa kekeluargaan 4.Kebutuhan akan penerimaan sosial 5.Kebutuhan akan penyesuaian diri 6.Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial
Berbagai konflik yang dialami oleh remaja 1.Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka 2.Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua. 3.Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial. 4.Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari. 5.Konflik menghadapi masa depan. 6.Tugas-tugas perkembangan remaja
William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu
sebagai berikut : a.Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya. b.Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas. c.Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok. d.Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya. e.Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri f.Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai. Prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung). g.Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.
Masa-Masa Remaja Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut. 1)Masa praremaja (remaja awal) Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a) negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
2)Masa remaja (remaja madya) Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorong untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang menilai, pantas dijunjung tinggi dan di puja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai dewa remaja. Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita hidup itu dapat di pandang sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan nilai-nilai kehidupan tersebut adalah pertama, karena tiadanya pedoman, si remaja pedoman, si remaja merindukan sesuatu bayang dianggap bernilai, pantas dipuja walau pun sesuatu yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Kedua objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yang dipandang mendukung nilai-nilai tertentu (jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif, mengagumi, dan memujanya dalam khayalan.
3)Masa remaja akhir Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
4)Masa Usia Kemahasiswaan Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup.
Karakteristik Perkembangan Remaja Seiring perkembangan dan pertumbuhan fisik, terjadi pula perubahan dan perkembangan di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak-kanaknya telah berakhir, berganti dengan kelenjar endokrin yang memproduksi hormon, sehingga menggalakan Pertumbuhan organ seks yang tumbuh menuju kesempurnaan. Organ seks menjadi besar disertai dengan kemampuannya untuk melaksanakan fungsinya. Pada remaja putri terjadi pembesaran payudara dan pembesaran pinggul. Di samping itu meningkat pula dengan cepat berat dan tinggi badan. Sedangkan pada remaja pria mulai kelihatan (membesar) jakun di lehernya dan suara menjadi sengau / besar. Di samping itu bahunya bertambah lebar dan mulai tumbuh bulu di ketika dan di atas bibir atasnya (kumis). Satu tanda Kematangan seksual dengan jelas pada remaja putri tetapi hanya diketahui oleh yang bersangkutan saja, yaitu terjadinya datang bulan / haid dan pada remaja putera mimpi basah. Tanda-tanda permulaan Kematangan seksual tidak berarti bahwa secara langsung terjadi kemampuan reproduksi.
Penyimpangan atau Kenakalan Remaja 1.Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS. 2.Kecanduan akan Narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS 3.Kecanduan Alkohol / minuman keras. 4.Tawuran. 5.Sering berkunjung ke diskotik. 6.Menjajakan diri kepada pria hidung belang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang Pada Remaja 1.Kelalaian orangtua dalam mendidik anak (memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama). 2.Sikap perilaku orangtua yang buruk terhadap anak. 3.Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir). 4.Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas. 5.Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok. 6.Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno. 7.Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga). 8.Perceraian orangtua. 9.Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol. 10.Hidup menganggur. 11.Kurang dapat memanfaatkan waktu luang. 12.Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nilai-nilai moral).

TIPS mencegah lebih baik daripada kenapa-kenapa di akhir (amit-amit deh ya, #getokgetokmeja), maka coba kita lihat yuk beberapa tips berikut.
1. Sikapi dengan Kepala Dingin
Ketika pertama kali mengetahui si remaja mulai ngomongin gebetan atau pacar (apalagi jika sebelumnya Mama nggak tahu kalau mereka pacaran), pasti rasanya terkejut ya Ma. Paling nggak, Mama akan ngerasa, ‘anakku udah mulai gede nih’. Nah, kemudian Mama pasti kepo dengan hubungan pacarannya ini. Well, jangan langsung ngamuk atau meng-investigasi, Ma. Bisa-bisa si remaja malah menutup diri dan enggan bercerita pada Mama. Tanyakan dengan nada bercanda.“Jadi menurut Kakak, si Aldi itu ganteng?” Jika si remaja belum mau menjawab, ulangi pada waktu-waktu yang menurut Mama baik, misalnya saat sedang bersama-sama menyiapkan makan malam atau mencuci piring. Sama dengan kita, jika suasana hati anak sedang baik, nanti dia akan cerita sendiri kok.
2. Anggap Serius Perasaannya
Dari kacamata kita yang sudah makan asam-garam percintaan, kisah pacaran si remaja akan sangat terdengar sepele. Halah, cinta monyet ini, nanti juga berlalu!Jangan bersikap begitu ya, Ma, karena dengan menyepelekan ceritanya, si remaja akan malas bercerita lagi. Pastikan bahwa dia tahu kita memperhatikan ceritanya, misalnya dengan sesekali bertanya, “Apa kabar si Aldi?” Dengan demikian, dia merasa dihargai dan akan balik mendengarkan kita.
3. Berikan Contoh melalui Kisah Mama dan Papa
Kadang akan ada anak yang bertanya, bagaimana Mama dan Papa bertemu? Sampaikan hal-hal baik dalam kisah pacaran Mama dan Papa dulu, seperti memprioritaskan kuliah atau pekerjaan, saling memercayai dan tidak ketergantungan, dan sebagainya. Mungkin Mama juga bisa janjian dulu dengan Papa untuk menjawab pertanyaan ini. Bukannya mau bohong, tapi usahakan agar dia terinspirasi untuk mengambil pelajaran yang baik.
4. Berikan Sex Education dan Bangun Karakter Diri Anak yang Kuat
Salah satu alasan utama yang mendorong si remaja berpacaran adalah alasan ‘semua temanku pacaran, Ma.’ Nah, kalau kita sudah bisa membangun diskusi dari hati ke hati, motivasi si remaja agar dia mengerti bahwa dia tidak harus mengikuti arus. Jelaskan pula tentang perbedaan perempuan-laki-laki, juga mengenai bagaimana menghargai dirinya, bagaimana mengatakan ‘tidak’, dan konsekuensi yang akan terjadi atas segala sesuatu. Well, wajar sih kalau si remaja risih membicarakan tentang seks, apalagi dengan Mama. Tapi bisa kok, Ma, kita memosisikan diri sebagai rekan yang selalu siap sedia untuk ditanyai, daripada dia menjadikan teman sekolahnya atau sahabatnya sebagai sumber informasi untuknya. Mama juga bisa menggunakan sudut pandang yang penting untuknya. Misalnya nih, sebagai contoh. “Kakak mau jadi dokter kan? Nah, akan lebih mudah untuk mengejar cita-cita itu kalau Kakak belum gendong bayi. Jadi, hati-hati dengan apa yang dilakukan saat bersama Aldi.” Yang paling penting dari semuanya, Ma, adalah membekali anak dengan pengetahuan agama, karena hal ini terbukti ampuh untuk mengurangi perilaku negatif mereka.
5. Dampingi Dia saat Berkencan
Ketika saya duduk di bangku SMA, saya naksir teman sekelas yang anggota tim basket sekolah. Di suatu pertandingan, Mama saya nekat menemani saya menonton. Saya sih berusaha duduk jauh-jauh, tapi lama-lama saya menikmati perhatian Mama. Alasannya, dengan pendampingan Mama, gebetan saya lebih menghormati saya. Ya, bukannya dia nggak menghormati saya kalau nggak ada Mama gitu juga sih, tapi dia jadi jauh lebih sungkan. Nah, kalau si remaja tidak suka didampingi terang-terangan, katakan bahwa kebetulan Mama pergi ke arah atau tempat yang sama. Setidaknya, Mama tahu persis seperti apa pacar atau gebetan si remaja, dan bisa memberikan reaksi yang lebih tepat saat berdiskusi dengan mereka.
6. Pantau Media Sosial si Remaja
Dengan adanya media sosial, bisa jadi pacar atau gebetan si remaja bukan teman sekolahnya. Sambil mencoba mengenal teman-temannya, perhatikan apa saja media sosial yang dia gunakan, dan bagaimana kecenderungan post-nya. Ayah saya punya Facebook dan terkadang mengomentari status anak-anaknya. Saya juga mengamati, bahwa hampir semua Mama muda punya Instagram (dan rajin nge-post juga). Mama juga kan? Jadi, jangan asyik sendiri, Ma. Mama bisa menggunakan media sosial sebagai sarana untuk semakin akrab dengan anak, dan bantu dia untuk mengenal batasan privasi.
7. Lebih Aktif di Kegiatan Wali Murid
Jangan ‘berjuang’ sendiri Ma! Karena hampir semua orangtua menghadapi tantangan yang serupa. Coba diskusikan hal ini dengan wali kelas pada pertemuan wali murid. Feedback dari para guru dan saran dari teman-teman sesama orangtua murid yang lain akan menjadi masukan berharga untuk Mama. Atau siapa tahu, Mama justru lebih advance dan bisa membantu wali murid lain untuk menyelesaikan masalah yang mungkin timbul ketika anaknya pacaran.
8. Hindari Punishment, Utamakan Reward
Jangan keburu marah, Ma. Ingat, perasaannya adalah yang paling penting. Jika kita merasa kecewa, dia juga pasti merasa sangat sedih. Motivasi positif adalah hal yang dibutuhkan olehnya saat ini, bukan penghakiman apalagi hukuman. Katakan hal-hal yang baik padanya.“Mama tahu perasaan Kakak pasti sedih setelah putus dari Aldi, tapi jadi lebih sedih lagi kan kalau nanti lihat nilai rapot jelek? Gimana kalau kita bikin perjanjian, kalau Kakak masuk tiga besar, Kakak boleh nonton konser Super Junior?” Tentunya, pendekatan seperti ini membutuhkan perhatian Mama akan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kisah cintanya yang kandas. Jangan lupa traktir es krim ya Ma, supaya dia tersenyum kembali. Ajak saya kapan-kapan juga boleh! #eh
9. Cek Handphone-nya
Saran saya sebagai penulis yaitu : Jadikan agama dan keimanan sebagai alat untuk membatasi atau mengontrol diri dalam berpacaran agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas atau seks bebas. Kontrol dan pengawasan ekstra ketat jika tidak ingin masa remaja anak anak tercoreng oleh hal buruk. Bagi mempunyai pacar diharapkan untuk bisa menjaga diri, kehormatan kesucian dan nama baik dirinya sendiri, keluarga, agama, almamater dan daerah asalnya serta bangsanya.
Kesimpulan Dalam ajaran Islam sesungguhnya istilah pacaran itu tidak ada, yang ada hanyalah istilah ta’aruf yaitu perkenalan antara calon istri dan calon suami. Tetapi mungkin disebabkan oleh semakin berkembangnya teknologi sehingga pergaulan semakin luas dan berkembang sehingga banyak orang yang setuju dengan pacaran. Hal ini juga mungkin disebabkan karena Indonesia bukan negara Islam, sehingga peraturan / hukum-hukum islam di Indonesia tidak begitu kuat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti di negara Islam lainnya seperti Arab Saudi. Serta tuntutan dan perkembangan zaman yang membuat sistem /cara didik dan pergaulan pada zaman “Siti Nurbaya” tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan zaman sekarang.
Terpenting adalah bunda yang paling tahu siapa dan bagaimana anak anak kandung sendiri, hadapi dengan hati yang bijaksana.
Dari hasil penelitian yang ada menghasilkan data sebagian besar responden menyatakan pertama kali mempunyai pacar pada usia < 17 tahun. Hal ini sangat beresiko sekali, karena umur <17 tahun adalah umur yang sangat rentan dan labil terjerumus ke dalam hal-hal yang sifatnya negatif serta masih kurangnya daya kontrol untuk mengontrol diri, emosi nafsunya.
DAFTAR PUSTAKA Teoritis Darajat Zakiah, 1995, Remaja Harapan dan Tantangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset. B. Hur lock Elizabeth, 1999, Psikologis Perkembangan, Jakarta: Erlangga Syamsu Yusuf, 2004 Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
4, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.